AKU MENDENGAR TANGIS SEORANG ANAK DI TENGAH MALAM. SAAT KU IKUTI SUARANYA KE BASEMENT, AKU MENEMUKAN RAHASIA PALING KEJI DARI ISTRI BARU SEORANG MILIARDER—TERSEMBUNYI DI BALIK DINDING.
Ratu Baru di Rumah Mewah
Namaku Bu Rina, lima puluh lima tahun, kepala pengurus rumah tangga di mansion milik Tuan Arman Wijaya. Tuan Arman adalah seorang miliarder yang baik hati, tetapi hidupnya hancur setahun lalu ketika istri pertamanya dan putra kecilnya yang berusia lima tahun, Dimas, meninggal dalam kebakaran tragis di vila keluarga mereka.
Karena depresi berat, Tuan Arman menjadi sasaran empuk orang-orang licik. Di situlah masuk ke dalam hidupnya seorang wanita bernama Bella—cantik, muda, dan sangat memikat. Hanya dalam beberapa bulan, mereka menikah. Di depan Tuan Arman, Bella tampak seperti malaikat. Namun di belakangnya, dia adalah sosok kejam yang memperlakukan para pelayan dengan buruk dan menghamburkan uang tanpa kendali.
Bella selalu melarang kami membersihkan basement lama mansion itu.
“Di sana cuma penuh debu dan barang rusak! Tidak ada yang boleh turun ke sana kalau tidak mau kehilangan pekerjaan!” ancamnya berkali-kali.
Tangisan di Kegelapan
Suatu malam, Tuan Arman pergi ke Singapura untuk urusan bisnis. Sementara itu, Bella mengadakan pesta bersama teman-temannya.
Sekitar pukul dua dini hari, aku turun ke dapur untuk minum air. Mansion itu sunyi. Saat aku mencuci gelas, tiba-tiba aku mendengar suara lemah dan serak.
“Uwa… uwa… saya lapar…”
Bulu kudukku langsung berdiri. Suara itu berasal dari bawah lantai—dari basement yang selama ini dilarang keras.
Walau takut, nuraniku lebih kuat. Aku mengambil senter dan diam-diam menuruni tangga dingin menuju basement yang gelap. Tempat itu penuh kotak tua dan furnitur rusak. Aku mengikuti suara tangisan itu hingga ke sudut paling ujung, tepat di belakang sebuah lemari besar.
“A-ada siapa di sana?” bisikku gemetar.
“T-tolong…” jawab suara anak kecil dari balik dinding.
Dengan seluruh tenagaku, aku mendorong lemari berat itu. Saat akhirnya bergeser, terlihat sebuah pintu besi tersembunyi dengan gembok tua. Aku mengambil palu dari kotak peralatan dan memukul gembok itu hingga hancur.
Rahasia yang Mengerikan
Saat pintu itu terbuka, hampir saja aku menjatuhkan senter karena kaget dan takut. Napasku tercekat, dan aku spontan berdoa.
Di dalam ruangan kecil, gelap, dan berbau busuk itu… ada seorang anak laki-laki yang kakinya dirantai ke kaki tempat tidur. Tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat, dan pakaiannya sangat kotor. Lengan kecilnya penuh luka dan memar…
Gemini đã nói
Anak itu menyipitkan mata, kesakitan saat cahaya senterku menerangi wajahnya yang cekung. Ketika mataku mulai terbiasa dengan kegelapan, jantungku serasa berhenti berdetak. Meski rambutnya berantakan dan tubuhnya tinggal tulang dibalut kulit, aku mengenali tahi lalat kecil di bawah telinga kirinya.
“D-Dimas?” bisikku dengan suara tercekat. “Den Dimas… ini Bu Rina, Nak.”
Anak itu gemetar hebat, air matanya membasahi pipi yang kotor. “Bu Rina… lapar… Tante Bella bilang Papa sudah tidak mau sama Dimas lagi…”
Pikiranku berputar hebat. Dimas seharusnya sudah meninggal setahun lalu dalam kebakaran itu! Namun kini aku menyadari kenyataan yang jauh lebih mengerikan: Bella tidak hanya licik, dia adalah iblis. Dia memalsukan kematian Dimas agar Tuan Arman depresi dan mudah dikendalikan, sementara ia menyekap ahli waris sah kekayaan Wijaya ini di ruang bawah tanah untuk dijadikan sandera atau sekadar disingkirkan perlahan-lahan.
Pengkhianatan di Puncak Pesta
Aku tahu aku tidak bisa sekadar membawanya lari. Bella memiliki penjaga di setiap sudut. Aku segera mengambil ponselku, merekam kondisi Dimas yang memprihatinkan, rantaian di kakinya, dan suaranya yang memanggil ayahnya. Video itu kukirimkan langsung ke Tuan Arman dengan pesan singkat: “Tuan, Den Dimas masih hidup. Pulanglah sekarang atau Anda akan kehilangan dia selamanya.”
Hanya butuh sepuluh menit bagi Tuan Arman untuk membalas. Ternyata, dia belum berangkat ke Singapura; pesawatnya baru akan lepas landas.
Pukul tiga pagi, saat Bella masih tertawa keras dengan teman-temannya di aula utama sambil memegang segelas sampanye, pintu besar mansion itu didobrak paksa. Tuan Arman masuk dengan wajah yang mengerikan, diikuti oleh sekawanan polisi.
“Sayang? Kenapa kembali secepat ini?” tanya Bella dengan suara manja yang dibuat-buat, meski wajahnya mulai pucat melihat polisi.
Tuan Arman tidak menjawab. Ia hanya menatap layar ponselnya, lalu menatap Bella dengan kebencian yang murni. “Di mana anakku, Bella?”
“Anakmu? Dimas sudah meninggal, Arman! Kau sedang stres—”
“BUANG TOPENGMU!” teriak Tuan Arman hingga suaranya menggetarkan seisi ruangan.
Keadilan yang Terbalas
Aku muncul dari balik tangga basement, menggendong tubuh mungil Dimas yang kututupi dengan selimut bersih. Saat Tuan Arman melihat putra yang selama ini ia tangisi di makam kosong, ia jatuh berlutut. Tangisnya pecah seketika.
“Papa…” suara lemah Dimas membuat seluruh ruangan menjadi sunyi.
Bella mencoba melarikan diri melalui pintu belakang, namun polisi sudah mengepungnya. Saat ia diborgol, ia masih sempat berteriak, “Harusnya anak itu mati di kebakaran itu! Kalau dia hidup, aku tidak akan pernah bisa menguasai hartamu!”
Tuan Arman tidak memedulikan makian wanita itu. Ia memeluk Dimas erat-erat, seolah takut jika ia melepaskannya, anak itu akan menghilang lagi.
Kini, mansion itu kembali tenang. Bella mendekam di penjara seumur hidup atas tuduhan penculikan, penyiksaan, dan percobaan pembunuhan berencana. Tuan Arman menghancurkan basement itu dan mengubahnya menjadi taman bunga yang indah untuk Dimas.
Aku tetap menjadi kepala pengurus rumah tangga di sana. Setiap kali aku melihat Dimas berlari di halaman dengan tawa cerianya, aku selalu teringat malam itu—malam ketika sebuah tangisan di balik dinding membongkar rahasia paling keji, dan mengembalikan cahaya yang sempat padam di rumah itu.
