IBU BILANGKU SELALU BERKATA, SATU-SATUNYA PUTRI DARI KELUARGA TERHORMAT DI SURABAYA ADALAH PERMATA YANG TAK BOLEH DINIKAHKAN TERLALU JAUH.
Karena itu, setelah aku lulus kuliah, beliau dengan hati-hati memilihkan pasangan untukku—seorang pria dari kota ini juga.
Namanya Dimas.
Seorang ahli bedah kardiovaskular di rumah sakit pemerintah besar di kota.
Wajahnya sulit dilupakan—dingin namun berwibawa. Kemampuannya luar biasa. Meski masih muda, ia sudah menjadi tulang punggung departemennya—pria idaman hampir semua perawat dan staf rumah sakit.
Hubungan kami dimulai dari sebuah “resume sempurna” dan persetujuan kedua orang tua.
Pada hari kami mendaftarkan pernikahan, Dimas baru saja selesai dari operasi besar. Kelelahan jelas terlihat di matanya.
Ia menatapku dengan tatapan tenang tanpa emosi, seolah aku hanyalah dokumen yang harus ia tandatangani.
“Lian, aku berharap kita bisa menjalani pernikahan ini dengan baik.”
Suaranya indah… tapi dingin. Tanpa sedikit pun kehangatan.
Rumah kami adalah sebuah apartemen mewah di pusat kota, hadiah dari keluargaku.
Namun kehidupan kami setelah menikah, jika diringkas dalam satu kata, adalah: dingin.
Ia hidup seperti mesin dengan jadwal yang presisi. Berangkat pagi, pulang larut malam. Kalau tidak di rumah sakit, pasti sedang dalam perjalanan ke sana.
Kami lebih seperti dua orang yang berbagi tempat tinggal daripada pasangan suami istri.
Aku memasak, ia makan dengan tenang lalu berkata, “Terima kasih.”
Aku menyetrika jas dokternya, ia hanya mengangguk, “Kamu pasti capek, terima kasih.”
Semuanya sopan, rapi, cukup—tapi kosong.
Kosong dari kehangatan yang seharusnya ada dalam pernikahan.
Ia jarang menyentuhku. Dan ketika itu terjadi, terasa seperti sekadar kewajiban—tertahan, jauh, tanpa cinta.
Dalam gelap, aku bisa merasakan tubuhnya yang tegang, napasnya yang hangat seolah ia menahan sesuatu.
Namun begitu lampu menyala, ia kembali menjadi Dr. Dimas—tenang, terkendali, seolah tak pernah terjadi apa-apa semalam.
Aku mencoba memahami. Mungkin ia hanya sedang memiliki beban.
Sampai hari itu.
Saat dua garis merah muncul di test pack, tanganku gemetar tak terkendali.
Aku hamil.
Anak kami.
Kebahagiaan itu membuat dunia seakan berhenti. Aku ingin segera berlari ke rumah sakit dan memberi tahu kabar ini.
Aku bahkan membayangkan bagaimana wajah dinginnya akan berubah menjadi bahagia.
Namun saat aku berdiri di depan pintu kantornya, membawa kotak makan siang dengan penuh harapan, pemandangan yang kulihat justru berbeda.
Seorang wanita.
Wanita yang sangat cantik.
Berpakaian elegan, riasan sempurna, dengan aura yang begitu mencolok.
Ia berdiri di samping meja Dimas, dengan lembut merapikan dasinya.
“Dimas, sampai kapan kamu mau menghindar dariku? Kesehatan Kakek sudah tak bisa menunggu, kamu harus kembali.”
Suaranya lembut namun penuh desakan.
Dan suamiku—yang selalu menjaga jarak dengan orang lain—tidak mendorongnya menjauh.
Ia hanya mengernyit, lalu berkata dengan suara penuh kesabaran yang belum pernah kudengar sebelumnya:
“Sophia, sudah kubilang, jangan ikut campur dalam hidupku.”
“Bukan ikut campur?” Sophia tertawa pahit. “Dimas, jangan lupa siapa yang membantumu keluar dari kota kecil ini. Permainanmu sudah selesai. Kembalilah pada kami. Lihat wanita yang kamu nikahi itu—selain nama keluarganya yang bersih, apa yang dia punya dibanding aku?”
Setiap kata penuh penghinaan.
Di saat itu, darahku terasa membeku.
Ternyata… dia bukan orang yang dingin.
Hanya saja, kehangatannya bukan untukku.
Bukan dia yang tak bisa mencintai.
Dia hanya tidak mencintaiku.
Pernikahan yang kujaga sepenuh hati… di mata mereka, hanyalah permainan sementara.
“Clang!”
Kotak makan siang di tanganku jatuh ke lantai.
Kuah sup tumpah, berantakan.
Mereka berdua langsung menoleh.
Untuk pertama kalinya, aku melihat kepanikan di wajah Dimas.
Ia segera menghampiriku.
“Lian, kenapa kamu di sini?”
Sementara Sophia hanya berdiri dengan tangan terlipat, tersenyum sinis, seolah sedang menonton drama lucu.
Aku menatap tangan Dimas yang hendak menyentuhku… dan tiba-tiba rasa mual menyerang.
Aku mundur.
“Aku… cuma bawakan makan siang.”
Suaraku bergetar.
“Tapi sepertinya… kamu tidak membutuhkannya.”
Setelah itu, aku tak menatapnya lagi dan langsung berlari pergi.
Air mataku jatuh tanpa henti, dunia di sekelilingku menjadi kabur.
Kehidupan tenang yang kukira kumiliki… sejak awal ternyata hanyalah kebohongan.
Dan aku adalah orang bodoh yang berdiri di tengahnya tanpa menyadari apa pun.
Aku pulang ke rumah dengan pikiran kosong.
Rumah yang dulu terasa hangat, kini seperti penjara besar yang mencekik.
Bunga-bunga yang kuatur pagi tadi masih ada di ruang tamu. Masih harum.
Tapi aku merasa mual.
Telepon dari Dimas terus masuk.
Aku tidak menjawab. Semua aku matikan.
Aku tidak ingin mendengar penjelasan apa pun.
Karena aku sudah melihat… dan sudah mendengar semuanya.
Apa lagi yang perlu dijelaskan?
Aku duduk di sofa, pikiran kacau.
Kata-kata Sophia terus terngiang di telingaku…
“Pernikahanmu hanya sekadar pelarian, Lian. Dia memilihmu karena kamu ‘aman’, karena keluargamu punya nama yang bersih untuk menutupi jejak masa lalunya bersama kami.”
Suara Sophia seolah menari-nari di dinding apartemen yang sunyi ini. Aku menatap perutku yang masih rata. Di sana ada kehidupan, sebuah anugerah yang tadinya ingin kusambut dengan suka cita. Namun sekarang, janin ini terasa seperti rahasia yang menyakitkan. Apakah dia akan lahir sebagai pengikat dua orang yang tidak saling mencintai? Ataukah dia hanya akan menjadi beban bagi Dimas yang ingin “kembali” ke dunianya yang sebenarnya?
Malam itu, pintu apartemen terbuka. Langkah kaki Dimas yang biasanya teratur kini terdengar tergesa.
Aku tidak beranjak dari sofa. Aku tetap duduk di kegelapan, membiarkan hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela besar ruang tamu.
“Lian?” suaranya rendah, ada nada kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia menyalakan lampu, membuatku menyipitkan mata. “Kenapa mematikan ponsel? Aku mencarimu ke mana-mana.”
Aku menoleh perlahan. Ia masih mengenakan jas dokternya, namun dasinya sudah dilonggarkan—mungkin oleh tangan Sophia, mungkin oleh rasa frustrasinya sendiri.
“Siapa Sophia?” tanyaku langsung, tanpa basa-basi.
Dimas terdiam. Ia meletakkan kunci mobilnya di meja dengan denting yang memekakkan telinga di ruangan sunyi itu. “Dia masa lalu, Lian. Rekan sejawat saat aku mengambil spesialis di luar negeri. Jangan dengarkan apa yang dia katakan.”
“Dia bilang kamu harus kembali. Dia bilang aku hanya ‘nama keluarga yang bersih’. Apa itu artinya, Dimas?” suaraku mulai meninggi, pecah oleh tangis yang kutahan sejak di rumah sakit. “Dua tahun kita menikah… apa aku hanya tameng untukmu?”

Dimas melangkah mendekat, hendak menyentuh bahuku, tapi aku tersentak mundur. Wajahnya yang biasanya kaku seperti batu kini menunjukkan retakan.
“Aku tidak pernah menganggapmu tameng,” bisiknya. “Tapi aku memang punya hutang budi pada keluarga Sophia yang membantuku saat aku tidak punya apa-apa. Mereka ingin aku memimpin rumah sakit swasta mereka dan… menikahinya. Pernikahan kita adalah satu-satunya caraku untuk lepas dari kendali mereka.”
“Jadi benar,” aku tertawa pahit, air mata mengalir deras. “Kamu tidak menikahiku karena cinta. Kamu menikahiku untuk melarikan diri.”
Hening yang panjang menyelimuti kami. Dimas tidak membantah. Kejujurannya yang membisu lebih menyakitkan daripada kebohongan mana pun.
Aku berdiri, mengambil tas kecil yang sudah kusiapkan di samping sofa.
“Lian, mau ke mana?”
“Aku butuh waktu,” kataku sambil mengusap air mata. Aku tidak memberitahunya tentang dua garis merah itu. Belum saatnya. Aku tidak ingin dia bertahan denganku hanya karena rasa tanggung jawab atau karena bayi ini adalah “tameng” baru baginya.
Saat aku berjalan menuju pintu, Dimas meraih tanganku. Untuk pertama kalinya, tangannya tidak dingin. Tangannya gemetar.
“Lian, tolong… jangan pergi.”
Aku menatap matanya. Di sana, aku melihat sesuatu yang baru. Bukan sekadar rasa bersalah, tapi ketakutan yang murni. Ketakutan kehilangan satu-satunya hal nyata yang ia miliki di tengah dunia penuh intrik politik medisnya.
“Buktikan, Dimas,” bisikku pelan sebelum melepaskan genggamannya. “Buktikan kalau aku bukan sekadar pilihan yang ‘aman’. Selesaikan masa lalumu, atau jangan pernah cari aku lagi.”
Aku menutup pintu apartemen mewah itu, meninggalkan pria yang kucintai di tengah kemewahan yang terasa hampa. Aku berjalan menuju lift dengan tangan mendekap perut. Malam ini, aku akan kembali ke rumah Ibuku di Surabaya. Kota ini mungkin dingin, tapi aku membawa kehangatan kecil di dalam diriku yang akan memberiku kekuatan untuk menentukan masa depanku sendiri.