Skip to content

News24

Weekly newspaper focusing on environmental issues

Menu
  • Home
  • Animal
  • Healthy
  • Joke
  • Life
  • Politics
Menu

PERJALANAN BISNIS PERTAMA DAN “TANGGUNG JAWAB”

Posted on April 6, 2026 by Trinh Tuyen

PERJALANAN BISNIS PERTAMA DAN “TANGGUNG JAWAB”

Semuanya berubah dalam satu malam. Untuk pertama kalinya aku ikut dalam perjalanan bisnis bersama bosku, dan aku tidak pernah menyangka… aku akan terbangun di tempat tidur yang sama dengannya.

Saat membuka mata, aku langsung tahu—ini akhir hidupku. Aku panik dan buru-buru mencoba “membersihkan” situasi, berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.

“Pak… anggap saja tidak ada yang terjadi di antara kita. Saya tidak apa-apa, saya tidak akan mempermasalahkannya,” kataku dengan suara gemetar.

Tapi hasilnya? Bosku yang biasanya dingin dan serius seperti es… tiba-tiba terlihat… terluka?

Dia meraih pergelangan tanganku, suaranya terdengar sedikit tersinggung:
“Kenapa? Setelah apa yang terjadi semalam… kamu mau lari dari tanggung jawabmu padaku?”

01.

Aku terbangun dengan perasaan dunia runtuh.

Perlahan aku mengintip tubuhku di bawah selimut—aku tidak memakai apa pun.

Lalu aku melihat pria itu, berdiri membelakangiku di depan jendela besar dari lantai ke langit-langit, sedang merokok. Dia adalah bosku—Rafael Pratama.

Tubuhku langsung kaku di tempat tidur.

Ya Tuhan, tolong!

Apa yang sebenarnya terjadi?!

Bukankah aku memesan kamar standar? Bagaimana bisa aku berakhir di Presidential Suite milik bosku di lantai atas hotel mewah di Jakarta?!

Aku bergerak gelisah di bawah selimut. Rafael mendengar suara itu dan perlahan menoleh.

Suaranya tetap sama—bariton dalam yang dingin namun karismatik.

“Kamu sudah bangun?”

Wajahku terasa terbakar karena malu. Aku menutupinya dan menjawab pelan,
“I-iya, Pak…”

Kenapa dia bisa setenang itu?! Seolah tidak terjadi apa-apa?!

Aku menggertakkan gigi dalam hati.

“Kalau sudah bangun, sarapan dulu. Saya sudah pesan room service.”

“Ah… baik, Pak.”

Kalau dia tenang, aku juga harus tenang. Tapi sebenarnya di dalam hati, aku sudah menjerit, panik, dan hampir gila.

Dia… masih sempat menawarkan sarapan seperti ini hari biasa?!

Ini benar-benar aneh. Tidak normal!

Apa ini benar bosku yang di kantor selalu dingin, pendiam, dan membuatku bahkan takut menatapnya? Si “Ice King” perusahaan?

Sambil diam-diam meliriknya, aku mencari pakaianku. Tiba-tiba Rafael melemparkan bathrobe ke arahku. Saat itu aku baru sadar…

Dia juga hanya memakai bathrobe.

Dan pakaian kami?

Berserakan di lantai seperti habis diterjang badai.

Aku tidak sanggup melihatnya. Cepat-cepat aku memakai bathrobe dan berlari ke kamar mandi.

“S-saya cuci muka dulu, Pak.”

02.

Begitu masuk, aku langsung mengunci pintu. Aku menarik napas panjang, merasa seperti baru lolos dari maut.

Aku menyiram wajahku dengan air dingin berkali-kali, mencoba menyadarkan diri. Tapi pikiranku kusut seperti benang yang tak terurai.

Apa yang sudah aku lakukan?!

Apa benar… aku tidur dengan bosku?

Ya Tuhan! Itu bosku!

Aku menatap cermin. Wajahku memerah, rambut berantakan, dan ada bekas merah di leher serta tulang selangka.

Tanda-tanda yang tidak bisa disangkal.

Ini nyata. Sesuatu benar-benar terjadi antara aku dan Pak Rafael.

Apa yang terjadi semalam?

Ah… benar…

Kemarin adalah perjalanan bisnis pertamaku dengannya. Setelah kontrak berhasil ditandatangani, klien mengajak kami makan malam untuk merayakan.

Di pesta itu, aku minum beberapa gelas alkohol menggantikannya karena aku tahu dia lelah…

Dan setelah itu…

Sial! Kenapa aku tidak ingat apa-apa lagi?!

Apa aku yang mulai duluan? Atau dia? Atau… kami sama-sama kehilangan kendali?

Bagaimana aku bisa naik dari kamar kecilku ke suite mewah ini?!

Aku benar-benar dalam masalah besar…

Gemini đã nói

Aku menyandarkan kepala di pintu kamar mandi yang dingin. Jantungku berdegup kencang. Jika berita ini sampai ke kantor, karier yang kubangun dengan susah payah akan hancur dalam semalam. Aku akan dicap sebagai pelakor, penggoda, atau wanita yang menggunakan “jalan pintas”.

Aku harus mengakhiri ini sekarang. Aku harus bersikap profesional.

Setelah menarik napas panjang terakhir, aku merapikan rambut dan keluar. Rafael sudah duduk di meja makan kecil dekat jendela, menyesap kopinya dengan tenang. Aroma roti panggang dan bacon memenuhi ruangan, namun perutku terasa mual karena gugup.

“Duduklah,” perintahnya tanpa menoleh.

Aku duduk di hadapannya, menunduk dalam-dalam, menatap piring telur mata sapi yang tampak mengejekku. “Pak Rafael,” suaraku mencicit. “Mengenai semalam… saya benar-benar minta maaf. Saya pasti sudah keterlaluan karena mabuk.”

Rafael meletakkan cangkir kopinya perlahan. Denting porselen itu terdengar seperti vonis hakim di telingaku.

“Keterlaluan?” tanyanya datar.

“Iya. Saya tahu Bapak adalah atasan saya, dan ini adalah kesalahan fatal. Jadi…” aku memberanikan diri menatap matanya yang tajam. “Mari kita lupakan saja. Anggap saja tidak ada yang terjadi di antara kita. Saya tidak apa-apa, saya tidak akan mempermasalahkannya atau menuntut apa pun. Kita kembali profesional seperti biasa.”

Hening.

Angin AC hotel mendesis pelan. Aku mengharapakan dia mengangguk setuju atau setidaknya merasa lega. Tapi yang kulihat justru rahangnya mengeras. Tatapannya yang tadi dingin berubah menjadi tajam dan… terluka?

Tiba-tiba, dia mengulurkan tangan melintasi meja dan mencengkeram pergelangan tanganku. Sentuhannya hangat, namun tekanannya menuntut.

“Kenapa?” suaranya rendah, bergetar oleh emosi yang tertahan. “Setelah apa yang terjadi semalam… kamu mau lari dari tanggung jawabmu padaku?”

Aku melongo. “T-tanggung jawab? Bukannya seharusnya saya yang bilang begitu?”

Rafael berdiri, masih menggenggam tanganku, memaksaku ikut berdiri. Ia melangkah mendekat hingga aroma maskulinnya mengunci inderaku.

“Kamu yang menarik dasiku di lift, Aruna. Kamu yang bilang benci melihatku bersikap dingin pada semua orang tapi hanya diam saat bersamamu. Dan kamu…” ia menjeda, matanya menatap bibirku sesaat sebelum kembali ke mataku. “Kamu yang memintaku untuk tidak melepaskanmu semalam.”

Duniaku serasa berhenti berputar. Memoriku yang hilang mendadak muncul seperti potongan film rusak—aku yang tertawa tidak jelas, tanganku yang melingkar di lehernya, dan bisikanku yang memintanya tetap tinggal.

“Saya… saya bilang begitu?”

“Ya,” bisik Rafael, wajahnya kini hanya beberapa senti dari wajahku. “Dan sekarang, setelah aku memberikan segalanya, kamu ingin membuangku begitu saja seolah aku ini cinta satu malam? Aku tidak serendah itu, Aruna.”

“Lalu… Bapak mau apa?” tanyaku gemetar.

Rafael tersenyum tipis, jenis senyum yang belum pernah ia tunjukkan di kantor—senyum predator yang telah mendapatkan mangsanya.

“Aku tidak butuh permintaan maaf. Aku butuh kamu di sampingku. Bukan sebagai sekretaris yang ketakutan, tapi sebagai wanita yang bertanggung jawab atas apa yang sudah dia mulai.”

Ia melepaskan tanganku, lalu merapikan bathrobe-nya dengan tenang. “Habiskan sarapanmu. Kita punya jadwal pertemuan jam sepuluh, dan setelah itu, kita akan bicara soal tanggal pertunangan kita. Aku tidak menerima penolakan.”

Aku terduduk lemas di kursi. Perjalanan bisnis pertama ini memang mengubah hidupku, tapi bukan karena aku dipecat, melainkan karena aku baru saja “menjebak” bos paling ditakuti di Jakarta untuk jatuh ke pelukanku—dan dia sama sekali tidak keberatan.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • IBU BILANGKU SELALU BERKATA, SATU-SATUNYA PUTRI DARI KELUARGA TERHORMAT DI SURABAYA ADALAH PERMATA YANG TAK BOLEH DINIKAHKAN TERLALU JAUH.
    by Trinh Tuyen
  • PERJALANAN BISNIS PERTAMA DAN “TANGGUNG JAWAB”
    by Trinh Tuyen
  • IA AKAN DIHUKUM MATI SA FAJAR UNTUK KEJAHATAN YANG TIDAK PERNAH IA LAKUKAN… NAMUN SEEKOR TIKUS MENYELAMATKAN HIDUPNYA.
    by Trinh Tuyen
  • SETIAP HARI, ALIH-ALIH MEMAKAN BEKALNYA, SEORANG ANAK PEREMPUAN KECIL BERUSIA 7 TAHUN BERNAMA AISHA MENYEMBUNYIKANNYA. DAN SAAT SANG GURU MULAI CURIGA… APA YANG DILIHATNYA DI BELAKANG SEKOLAH MEMBUAT NAPASNYA TERHENTI.
    by Trinh Tuyen
  • SETIAP HARI AKU DI SAKITI DAN DIPERMALUKAN OLEH ANAK MANJA DARI PARA MILIARDER YANG KULAYANI. NAMUN SAAT SEBUAH MAP BERISI DOKUMEN JATUH DARI TASNYA, HASIL TES DNA YANG TERTULIS DI DALAMNYA LANGSUNG MENJATUHKANNYA—DAN MENGANGKAT DERAJATKU.
    by Trinh Tuyen

ADS

©2026 News24 | Design: Newspaperly WordPress Theme