Skip to content

News24

Weekly newspaper focusing on environmental issues

Menu
  • Home
  • Animal
  • Healthy
  • Joke
  • Life
  • Politics
Menu

IA AKAN DIHUKUM MATI SA FAJAR UNTUK KEJAHATAN YANG TIDAK PERNAH IA LAKUKAN… NAMUN SEEKOR TIKUS MENYELAMATKAN HIDUPNYA.

Posted on April 6, 2026 by Trinh Tuyen

IA AKAN DIHUKUM MATI SA FAJAR UNTUK KEJAHATAN YANG TIDAK PERNAH IA LAKUKAN… NAMUN SEEKOR TIKUS MENYELAMATKAN HIDUPNYA.

Dibuang ke penjara untuk mati karena dosa yang bukan miliknya, ia membagikan potongan roti terakhirnya kepada seekor tikus. Ia tak pernah menyangka bahwa hewan kecil itu akan menjadi kunci kebebasannya.

Namanya Arif, seorang pria miskin yang tidak memiliki harta, tetapi menyimpan kekayaan paling berharga: hati nurani yang bersih. Ia bekerja sebagai pelayan di mansion milik Gubernur Surya Wijaya—seorang pemimpin berkuasa yang memerintah provinsinya dengan tangan besi.

Arif dikenal karena kejujurannya yang tak tergoyahkan.

Jika ia menemukan koin emas di tanah, ia akan mengembalikannya tanpa ragu. Namun di dunia yang dipenuhi keserakahan, kejujuran sering kali menimbulkan iri di hati yang gelap.

Seseorang yang sangat membencinya adalah Bima, kepala pengawas rumah tangga. Ia membenci Arif karena integritasnya menjadi cermin bagi kebusukannya sendiri. Selama berbulan-bulan, diam-diam ia mencuri dari dapur dan gudang anggur gubernur. Ia tahu suatu hari Arif akan mengetahuinya—jadi ia memilih menyerang lebih dulu.

Suatu sore, cincin gubernur yang sangat berharga tiba-tiba hilang. Mansion pun geger.

Dengan sandiwara bak aktor panggung, Bima “menemukan” cincin itu di bawah kasur sederhana milik Arif.

“Ini dia, Tuan!” teriaknya pura-pura marah. “Ular yang Anda pelihara di rumah sendiri—justru menggigit Anda!”

Arif terpaku. Ia hampir tak mampu membela diri. Bukti tampak jelas—meskipun itu hanyalah jebakan.

Wajah Gubernur Surya memerah karena marah. Ia bahkan tidak mau mendengar penjelasan Arif. Baginya, ini adalah pengkhianatan dari orang yang paling ia percaya.

“Bawa dia,” perintahnya dingin. “Masukkan ke Penjara Bawah Tanah. Beri hanya roti dan air sampai dia mengaku… atau mati.”

Pengadilannya cepat dan kejam—jika itu bisa disebut pengadilan. Tanpa pengacara. Tanpa saksi. Hanya kata-kata beracun Bima melawan permohonan putus asa Arif.

Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Arif dilempar ke sel paling gelap—tempat bagi pembunuh dan pengkhianat. Saat ia diseret di jalan, orang-orang yang dulu menyapanya kini melempar sampah dan meludah.

“Pencuri!” teriak mereka—orang-orang munafik.

Ketidakadilan terasa lebih menyakitkan daripada rantai di pergelangan tangannya.

Arif menatap langit, mencari jawaban—namun hanya awan tebal yang terlihat. Di mana keadilan? Mengapa kebohongan dibiarkan menang?

Di balkon mansion, Bima tersenyum puas, menikmati hasil dari tipu dayanya.

Pintu besi penjara tertutup keras—seolah menjadi akhir hidup Arif.

Penjara bawah tanah itu gelap, lembap, dan penuh bau busuk. Selnya hanyalah kotak batu tanpa jendela. Satu-satunya cahaya berasal dari obor redup di lorong jauh.

Udara dipenuhi bau jamur, kotoran, dan keputusasaan orang-orang yang mati di sana.

Seorang penjaga yang kejam mendorongnya masuk.

“Beristirahatlah, pencuri,” ejeknya. “Kau akan mati di sini. Tak ada yang akan mengingatmu.”

Arif sendirian dalam kegelapan. Sunyi itu hampir memekakkan telinga—hanya tetesan air yang terdengar.

Ia jatuh terduduk di lantai, memeluk dirinya sendiri. Dingin menembus tulang, tetapi yang lebih dingin adalah hatinya. Dalam satu hari, ia kehilangan segalanya—pekerjaan, nama baik, kebebasan, masa depan.

Ia menangis dalam diam.

Minggu-minggu berlalu dalam kegelapan. Rasa lapar menjadi bagian dari hidupnya. Namun yang lebih berat adalah pertarungan di dalam pikirannya.

Jika Tuhan ada, mengapa ini terjadi?

Hampir kehilangan harapan, ia berbisik:

“Ya Tuhan… jika Engkau ada, beri aku tanda. Aku tidak meminta mukjizat… aku hanya ingin tahu bahwa aku tidak sendirian.”

Namun jawabannya hanya kesunyian.

Suatu malam, saat ia menatap sepotong kecil roti kering—makan malamnya—ia mendengar suara pelan.

Ia membeku.

Sepasang mata kecil berkilau menatapnya dari celah dinding. Seekor tikus abu-abu besar, kotor, dengan telinga yang robek.

Kebanyakan orang akan menjerit atau membunuhnya.

Namun Arif… merasakan sesuatu yang berbeda.

Ia melihat dirinya sendiri dalam kelaparan dan penderitaan makhluk itu.

“Kau juga lapar, ya?” bisiknya serak.

Tikus itu tidak lari. Ia mengendus roti itu.

Arif menatap makanannya—begitu kecil, bahkan mungkin tidak cukup untuk membuatnya bertahan satu hari lagi.

Naluri dalam dirinya berteriak untuk memakan semuanya.



Namun hatinya yang baik menang.

Ia membagi roti itu menjadi dua.

“Nih,” katanya pelan, melempar setengahnya ke arah tikus. “Sedikit… tapi kita berbagi.”

Tikus itu mendekat dengan ragu, kumisnya bergetar hebat. Setelah memastikan Arif tidak berniat menyakitinya, ia menyambar potongan roti itu dan memakannya dengan lahap di sudut sel. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak dijebak, Arif tidak merasa sendirian.

Persahabatan aneh itu berlanjut selama berbulan-bulan. Setiap kali Arif mendapatkan jatah roti kerasnya, ia selalu menyisihkan sebagian untuk si tikus yang ia beri nama “Ciko”. Sebagai imbalannya, Ciko sering membawakan benda-benda kecil dari luar sel—kerikil berkilau, daun kering, atau potongan kain—seolah ingin menghibur temannya yang terpenjara.

Namun, hukuman mati akhirnya diputuskan. Gubernur Surya, yang didesak oleh Bima untuk segera “menyelesaikan masalah,” menetapkan bahwa Arif akan dieksekusi saat fajar tiba.

Malam terakhir sebelum eksekusi, Arif terduduk lemas. “Ciko, besok aku tidak bisa memberimu roti lagi,” bisiknya parau.

Tikus itu menatapnya lama, lalu tiba-tiba berlari masuk ke celah dinding yang dalam. Arif mengira Ciko meninggalkannya karena ketakutan. Namun sejam kemudian, Ciko kembali. Ia tidak membawa makanan, melainkan sesuatu yang berat dan berkilau di mulutnya.

KLING!

Benda itu jatuh di lantai sel yang dingin. Arif membelalakkan mata. Itu adalah Cincin Stempel Gubernur yang asli—cincin yang membuat Arif dihukum.


Rahasia di Balik Sarang Tikus

Arif menyadari sesuatu yang luput dari perhatian semua orang. Bima memang menyembunyikan cincin “palsu” di bawah kasur Arif, tetapi cincin yang asli sebenarnya ia sembunyikan di dalam pipa pembuangan di dapur agar tidak ketahuan jika ada penggeledahan mendadak. Tikus-tikus, termasuk Ciko, sering bersarang di sana dan menganggap benda berkilau itu sebagai mainan.

Arif segera berteriak memanggil penjaga. “Tuan! Tolong! Aku punya bukti! Panggil Gubernur sekarang juga!”

Penjaga yang awalnya hendak memaki, terdiam saat melihat lambang kebesaran gubernur berkilau di tangan Arif. Berita itu sampai ke telinga Gubernur Surya dalam hitungan menit. Sang Gubernur datang ke sel bawah tanah, wajahnya dipenuhi kebingungan.

“Dari mana kau mendapatkan ini?” tanya Gubernur.

Arif menunjuk ke arah Ciko yang masih mencicit di sudut. “Teman kecilku ini membawanya dari sarang di dapur, Tuan. Jika saya pencurinya, mana mungkin saya menyimpan cincin ini di tempat yang bisa diambil tikus?”


Fajar Keadilan

Gubernur Surya segera memerintahkan penggeledahan ulang di area dapur dan kamar pribadi Bima. Mereka menemukan tumpukan perhiasan lain dan catatan penjualan anggur ilegal yang disembunyikan di balik papan lantai kamar Bima.

Saat fajar menyingsing, bukan Arif yang melangkah ke tiang gantungan, melainkan Bima yang diseret oleh para pengawal dengan wajah pucat pasi.

Gubernur Surya berlutut di depan sel Arif dan membukanya sendiri. “Maafkan kebodohanku, Arif. Kejujuranmu memang nyata, dan aku telah dibutakan oleh fitnah.”

Arif dibebaskan dan diangkat menjadi penasihat kepercayaan Gubernur. Ia tidak membalas dendam pada orang-orang yang meludahinya; ia justru membangun lumbung pangan bagi rakyat miskin agar tidak ada lagi orang yang harus mencuri karena lapar.

Dan di kantor barunya yang megah, ada sebuah sudut kecil yang selalu bersih dengan piring perak berisi roti gandum terbaik dan keju mahal. Di sana, seekor tikus abu-abu bertelinga robek hidup dengan tenang—sebuah pengingat bahwa kebaikan sekecil apa pun, bahkan kepada seekor hewan yang dianggap menjijikkan, bisa memutar roda takdir dan menyelamatkan nyawa.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • IBU BILANGKU SELALU BERKATA, SATU-SATUNYA PUTRI DARI KELUARGA TERHORMAT DI SURABAYA ADALAH PERMATA YANG TAK BOLEH DINIKAHKAN TERLALU JAUH.
    by Trinh Tuyen
  • PERJALANAN BISNIS PERTAMA DAN “TANGGUNG JAWAB”
    by Trinh Tuyen
  • IA AKAN DIHUKUM MATI SA FAJAR UNTUK KEJAHATAN YANG TIDAK PERNAH IA LAKUKAN… NAMUN SEEKOR TIKUS MENYELAMATKAN HIDUPNYA.
    by Trinh Tuyen
  • SETIAP HARI, ALIH-ALIH MEMAKAN BEKALNYA, SEORANG ANAK PEREMPUAN KECIL BERUSIA 7 TAHUN BERNAMA AISHA MENYEMBUNYIKANNYA. DAN SAAT SANG GURU MULAI CURIGA… APA YANG DILIHATNYA DI BELAKANG SEKOLAH MEMBUAT NAPASNYA TERHENTI.
    by Trinh Tuyen
  • SETIAP HARI AKU DI SAKITI DAN DIPERMALUKAN OLEH ANAK MANJA DARI PARA MILIARDER YANG KULAYANI. NAMUN SAAT SEBUAH MAP BERISI DOKUMEN JATUH DARI TASNYA, HASIL TES DNA YANG TERTULIS DI DALAMNYA LANGSUNG MENJATUHKANNYA—DAN MENGANGKAT DERAJATKU.
    by Trinh Tuyen

ADS

©2026 News24 | Design: Newspaperly WordPress Theme