Skip to content

News24

Weekly newspaper focusing on environmental issues

Menu
  • Home
  • Animal
  • Healthy
  • Joke
  • Life
  • Politics
Menu

SEORANG PETANI TULI MENIKAHI GADIS BERTUBUH GEMUK KARENA SEBUAH TARUHAN; APA YANG KELUAR DARI TELINGANYA MEMBUAT SEMUA ORANG TERPERANGAH

Posted on April 4, 2026 by Trinh Tuyen

SEORANG PETANI TULI MENIKAHI GADIS BERTUBUH GEMUK KARENA SEBUAH TARUHAN; APA YANG KELUAR DARI TELINGANYA MEMBUAT SEMUA ORANG TERPERANGAH

Namaku Maya Lestari, dua puluh tiga tahun. Pagi saat aku resmi menjadi seorang istri, gerimis turun perlahan di pegunungan Sumatra Barat, seolah langit sendiri tahu bahwa hari itu bukan untuk kebahagiaan, melainkan untuk ketabahan.

Aku berdiri di depan cermin retak di kamar kayu tua rumah kami, merapikan ujung gaun pengantin milik ibuku. Kainnya sudah menguning, berbau kapur barus, kenangan lama, dan janji-janji yang tak pernah terpenuhi. Aku tidak gemetar karena dingin… aku gemetar karena malu.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Sudah waktunya, Nak,” suara ayahku, Pak Junaidi, terdengar berat.

Aku memejamkan mata sejenak.
“Aku siap,” jawabku—sebuah kebohongan.

Kenyataannya jauh lebih pahit. Ayahku memiliki utang di koperasi desa—lima juta rupiah. Jumlah itulah yang menjadi “harga” pernikahanku dengan pria yang tidak kupilih. Di rumah kami, ini disebut “jalan keluar”. Bagi pengurus koperasi, ini “solusi”. Bagi adikku, yang bahkan masih bau alkohol sejak pagi, ini “keberuntungan”.

Tapi bagiku, hanya satu kata:

Dijual.

Pria yang akan kunikahi bernama Eka Saputra. Tiga puluh delapan tahun, tinggal sendirian di ladang terpencil di antara hutan pinus dan lembah curam. Di desa kecil Sungai Rindu, semua orang mengatakan hal yang sama tentangnya: kaya tanah, tapi tidak berbicara dengan siapa pun. Ada yang menyebutnya dingin. Ada yang bilang dia gila.

Kebanyakan hanya menyebutnya satu hal:

Si tuli.

Aku baru melihatnya dua kali. Pertama, beberapa bulan lalu saat dia membeli garam, paku, dan kopi di warung. Tinggi, bahu lebar, diam seperti bayangan. Kedua, seminggu sebelum pernikahan, saat ayah membawanya ke rumah. Dia hanya berdiri di ruang tamu, sepatu botnya masih basah oleh embun, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia mengeluarkan buku kecil, menulis dengan pensil pendek, lalu menyerahkannya kepada ayahku.

“Aku setuju. Sabtu.”

Itu saja.

Tanpa pendekatan. Tanpa pertanyaan. Tanpa sedikit pun tanda kebahagiaan.

Upacara pernikahan bahkan tidak sampai sepuluh menit. Pak ustaz membacakan akad dengan suara cepat, seolah ingin segera selesai. Aku mengucapkan ijab kabul dengan suara yang terasa bukan milikku. Eka hanya mengangguk pada saat yang diperlukan. Saat waktunya “cium pengantin”, dia hanya menyentuh pipiku sebentar, lalu menjauh.

Dia tidak terlihat bahagia.

Tapi juga tidak terlihat kejam.

Dan entah kenapa, itu justru membuatku semakin takut.

Perjalanan ke ladangnya memakan waktu hampir dua jam. Eka mengemudikan gerobak, sementara aku duduk diam di sampingnya, tangan saling menggenggam di pangkuan, menatap pegunungan abu-abu sejauh mata memandang.

Rumahnya sederhana tapi kokoh. Ada kandang, lumbung, sumur, dan di kejauhan hutan pinus. Tidak ada tetangga. Tidak ada cahaya dari rumah lain. Hanya angin, kabut, dan kesunyian yang luas.

Dia membantuku turun, lalu mengajakku masuk. Di dalamnya bersih: satu meja, dua kursi, tungku dengan api kayu, dapur kecil, dan satu kamar di ujung. Dia menulis di bukunya:

“Kamar itu untukmu. Aku tidur di sini.”

Aku terkejut.
“Tidak perlu…”

Dia menulis lagi:
“Aku sudah memutuskan.”

Malam itu, saat merapikan koper kecilku, aku menangis untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai. Tanpa suara. Air mata jatuh ke gaun tua ibuku, seolah setiap tetes mengubur kehidupan yang tidak akan pernah kumiliki.



Hari-hari pertama terasa dingin dalam segala hal. Eka bangun sebelum fajar, mengurus ternak, memperbaiki pagar, atau memotong kayu, lalu kembali dengan bau asap dan angin. Aku memasak, menyapu, menjahit, mencuci—semua dalam diam.

Kami hanya berbicara lewat tulisan:

“Akan hujan deras.”
“Aku cek sumur.”
“Beras di rak atas.”

Hanya itu.

Namun pada hari kedelapan, semuanya berubah.

Aku terbangun di tengah malam oleh suara erangan tertahan—seperti seseorang menahan rasa sakit yang luar biasa. Aku keluar dan melihat Eka di lantai dekat tungku, satu tangan mencengkeram sisi kepalanya. Tubuhnya kaku, berkeringat, wajahnya meringis kesakitan.

Aku langsung berlutut di sampingnya.
“Ada apa?”

Tentu saja dia tidak bisa mendengar. Tapi dia melihat gerak bibirku dan dengan tangan gemetar mencari bukunya. Dia hanya menulis dua kata:

“Selalu begini.”

Aku tidak percaya. Tidak mungkin seseorang yang “selalu begini” sampai menggeliat di lantai seperti itu.

Aku mengambil kain basah, membantunya berbaring, dan menemaninya sampai tubuhnya tenang. Sebelum tertidur, dia menulis satu kata:

“Terima kasih.”

Sejak itu, aku mulai memperhatikan. Kadang pagi hari dia memegangi sisi kanan kepalanya. Aku melihat noda darah di bantal. Dia membawa rasa sakit itu seperti bagian dari hidupnya.

Suatu malam aku menulis:

“Sudah berapa lama?”

Dia menjawab:
“Sejak kecil. Dokter bilang terkait ketulianku. Tidak ada obat.”

Aku menulis kembali:
“Kamu percaya?”

Lama sekali dia menjawab.

“Tidak.”

Tiga malam kemudian, saat makan malam, Eka tiba-tiba jatuh dari kursi. Tubuhnya menghantam lantai keras. Aku berlari menghampiri. Dia menggigil kesakitan, memegang kepalanya.

Aku mendekatkan lampu minyak ke wajahnya, perlahan menyingkirkan rambutnya, lalu melihat ke dalam telinganya yang bengkak.

Dan saat itulah tubuhku terasa membeku.

Ada sesuatu di dalamnya.

Hitam.

Hidup.

Bergerak.

Aku mundur sesaat, jantung berdegup liar. Tapi aku menarik napas dalam—seperti seseorang yang melompat ke jurang karena tidak ada pilihan lain.

Aku menyiapkan air hangat, pinset kecil, dan alkohol.

Eka menatapku dengan takut.

Aku menulis dengan tangan tegas:
“Ada sesuatu di telingamu. Biarkan aku mengeluarkannya.”

Dia menggeleng keras.

Menulis:
“Berbahaya.”

Aku membalas:
“Lebih berbahaya kalau dibiarkan. Kamu percaya padaku?”

Dia menatapku lama.

Lalu… perlahan mengangguk.

Tanganku gemetar, tapi tekadku kuat. Aku memasukkan pinset dengan hati-hati. Ada perlawanan.

Lalu… satu tarikan kuat.

Dan sesuatu keluar… menggeliat di ujung logam itu.

Benda itu bukan serangga biasa. Saat aku menariknya keluar, sebuah kepompong hitam legam yang keras dan berlendir jatuh ke atas nampan kayu. Namun, yang membuat jantungku nyaris berhenti adalah apa yang menyusul di belakangnya: untaian rambut panjang yang terikat rapi dengan benang merah kusam, menyumbat saluran telinganya selama bertahun-tahun.

Eka memekik tertahan. Tubuhnya mengejang hebat sebelum akhirnya terkulai lemas di pangkuanku. Darah hitam pekat mengalir keluar dari telinganya, membawa bau busuk kemenyan yang menusuk hidung.

Aku gemetar hebat. Rambut siapa ini? Dan bagaimana bisa benda seperti ini ada di dalam kepala suamiku?

Tiba-tiba, Eka membuka matanya. Dia menatap langit-langit rumah dengan pandangan kosong, lalu perlahan beralih menatapku. Air mata mengalir di pipinya yang kasar. Dia tidak meraih buku catatannya. Bibirnya gemetar, mencoba membentuk suara yang sudah puluhan tahun terkunci.

“Ma… ya…”

Suaranya pecah, parau, dan sangat pelan, tapi itu adalah suara paling nyata yang pernah kudengar. Aku tersentak. “Eka? Kamu… kamu bisa bicara? Kamu bisa mendengarku?”

Dia mengangguk pelan, wajahnya yang biasanya kaku kini melunak dalam kelegaan yang luar biasa. “Suara… hujan… aku dengar suara hujan,” bisiknya sambil terisak.

Malam itu, rahasia besar desa Sungai Rindu terbongkar. Eka menceritakan bahwa saat dia masih kecil, ibunya—seorang dukun yang ditakuti—menanamkan “simpul bisu” ke telinganya agar Eka tidak bisa membocorkan rahasia ritual gelap yang sering dilakukan sang ibu. Ibunya ingin Eka menjadi penjaga setianya yang abadi, yang tidak bisa mendengar protes korban dan tidak bisa bicara pada dunia luar.

Keesokan paginya, berita kesembuhan Eka menyebar seperti api di atas rumput kering. Orang-orang desa berdatangan, termasuk ayahku dan adikku yang ingin menagih sisa uang taruhan.

Namun, saat mereka sampai di halaman rumah, mereka terperangah. Eka berdiri di ambang pintu, bukan sebagai pria tuli yang lemah, melainkan sebagai pria yang tegak dengan tatapan tajam yang berwibawa.

“Taruhan itu sudah selesai,” kata Eka dengan suara yang menggelegar, membuat ayahku mundur selangkah karena kaget. “Maya bukan barang dagangan. Dia adalah istriku yang telah menyelamatkan nyawaku.”

Eka kemudian mengeluarkan sebuah kotak tua dari bawah tempat tidur—bukan berisi emas, melainkan sertifikat tanah asli desa yang selama ini disembunyikan ibunya. Ternyata, separuh tanah desa ini secara hukum adalah milik keluarga Eka, dan selama ini warga desa telah ditipu oleh pengurus koperasi yang memanfaatkan “ketulian” Eka untuk merampas hasil buminya.

Warga terdiam, antara malu dan takut. Taruhan yang awalnya dimaksudkan untuk menghina Maya yang gemuk dan Eka yang tuli, justru berbalik menjadi kehancuran bagi mereka yang serakah.

Di tengah kerumunan itu, Eka meraih tanganku di depan semua orang. Dia tidak butuh kertas lagi untuk bicara padaku.

“Terima kasih sudah memilih untuk tinggal,” bisiknya di telingaku.

Aku tersenyum, menyadari bahwa di balik cermin retak dan gaun kuning ibuku, aku tidak sedang dijual. Aku sedang dihantarkan pada satu-satunya orang yang benar-benar bisa “mendengar” isi hatiku.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • IBU BILANGKU SELALU BERKATA, SATU-SATUNYA PUTRI DARI KELUARGA TERHORMAT DI SURABAYA ADALAH PERMATA YANG TAK BOLEH DINIKAHKAN TERLALU JAUH.
    by Trinh Tuyen
  • PERJALANAN BISNIS PERTAMA DAN “TANGGUNG JAWAB”
    by Trinh Tuyen
  • IA AKAN DIHUKUM MATI SA FAJAR UNTUK KEJAHATAN YANG TIDAK PERNAH IA LAKUKAN… NAMUN SEEKOR TIKUS MENYELAMATKAN HIDUPNYA.
    by Trinh Tuyen
  • SETIAP HARI, ALIH-ALIH MEMAKAN BEKALNYA, SEORANG ANAK PEREMPUAN KECIL BERUSIA 7 TAHUN BERNAMA AISHA MENYEMBUNYIKANNYA. DAN SAAT SANG GURU MULAI CURIGA… APA YANG DILIHATNYA DI BELAKANG SEKOLAH MEMBUAT NAPASNYA TERHENTI.
    by Trinh Tuyen
  • SETIAP HARI AKU DI SAKITI DAN DIPERMALUKAN OLEH ANAK MANJA DARI PARA MILIARDER YANG KULAYANI. NAMUN SAAT SEBUAH MAP BERISI DOKUMEN JATUH DARI TASNYA, HASIL TES DNA YANG TERTULIS DI DALAMNYA LANGSUNG MENJATUHKANNYA—DAN MENGANGKAT DERAJATKU.
    by Trinh Tuyen

ADS

©2026 News24 | Design: Newspaperly WordPress Theme